Selasa, 20 Oktober 2009

Kemana Ocha?

Sebelum meninggalkan Soppeng aku masih sempat menemuinya. Mengambil buku The True Life of Habibie yang aku pinjamkan sekaligus berpamitan. Kulihat ada semburat sedih di wajahnya. Tak kulihat dia bersemangat. Tapi tentu saja tak bisa Ia sembunyikan perasaan bahagianya bertemu denganku (Bukan narsis atau apa lho?:-D). Kutahu dia menutupi sesuatu. Hm.. dan selalu saja tak mau Ia bercerita padaku. Dia memang tertutup, tapi seharusnya tidak padaku kan?. Dia sahabatku, sejak lama. Atau dia memang pantasnya jadi pendengar saja, soalnya setiap aku terdiam dia selalu memintaku bercerita. Dan bila aku yang memintanya, jawaban yang sama untuk pertanyaan yang juga terus kuulangi, "aku mau cerita apa, Syif? Kau lihatlah perjalanan hariku, begini-begini saja dan selalu begini. Tak ada yang istimewa, kecuali satu, memiliki sahabat sepertimu tentunya!". Ah, Ocha.. Ocha..
Satu kalimat terakhirnya yang aku simpan baik-baik, "maafkanku bila tak seperti inginmu lagi!". Baru kusadari kebodohanku mengapa tak pernah kutanyakan apa maksudnya.
Berhari-hari aku menunggu kabarnya, hingga hari-hari itu bergumul. minggu demi minggu, kemudian minggu putarannya menjelma menjadi bulan. Dan bulan-bulan ini semoga saja tak menyimpul jadi tahun. Handphonenya gak aktif-aktif, sms-sms yang kukirim gagal dan gagal. Kemana Ocha?
Tak biasanya dia begini.
Setiap hari kutahu ia sangat sibuk. Pasien-pasiennya tak henti berdatangan. Pagi-pagi hingga petang menjelang ia tak pernah berhenti. Tubuhnya penuh oli, tentu saja karena ia montir profesional di bengkelnya..
Tapi,
Ocha..a..!!
Dimana dikau kini?
(bersambung jo!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar