Jumat, 30 Oktober 2009

Empty Dream



Lalu kapan aku menjadi paham

Kenapa ia tak takdirkanku menjadi seorang adinda

Dari seorang “KAKAk” dari rahim Ibunda

Kurasa tak perlu lagi mengaliri pipi dengan mutiara retina

Karena sebuah kemustahilan, itulah jawabannya!

Maka ini bukan lagi setumpuk awaqn mimpi

Melainkan hanya sebuah hayalan kosong

Yang kemudian tertiup angin realita…

Pergi dan sirna…

lalu apa maumu sekarang?”, tanyanya.

tidak!, tidak ada!!!”, aku hanya mampu menunduk, memilih kata diam. Mengunci bibir dengan isakan.

Dari seribu senja penantian bodohku… kini harus segera kuakhiri…

Karena sia-sia, itulah yang akan aku temukan..

karena mimipimu hanya sekedar khayalan…

Takkan pernah kau temukan,

Takkan pernah kau dapatkan,

Hingga habis kata,

Hingga habis masa…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar