Selasa, 08 Juni 2010

Ballo, Minuman Syethan!


Cerita Minggu, seperti biasa...

Awalnya selalu kuukir senyum, sebab kutak ingin kelihatan sedih dihadapan kalian, adik-adikku yang sudah besar. Senyum tak boleh kikir :-) Masih menekuni bendera-bendera yang harus selesai malam itu. Tiba-tiba ia datang, kusapa dengan manis. Ia duduk, namun tiba-tiba mengacak-acak kertas merah potongan bendera merah putih yang akan direkatkan. Kutanggapi dengan teguran yang berselimut canda, sebab tak pernah ia sekasar itu. Tapi aku malah ditatapnya dengan tajam, matanya merah. Kutahu ada yang lain, apa ia masih di alam sadarnya? Selanjutnya , tingkahnya makin menjadi-jadi, berteriak tak jelas, memberi komentar buruk dengan kata-kata yang busuk kepada teman-temannya yang berlatih. Aku terus diganggunya, entah dengan tindakannya yang mengejek, menarik-narik hapeku, atau berman-main dengan pisau atau gunting. Tanpa sadar aku nyeletuk,

“Tidak mabokji? Habis minum ballo yah?”, emosiku bermain.

Ia hanya tersenyum.

“Tidak begitu gayanya kalau orang mabok Kak!”, kata Wahyu.

Ah, mungkinkah Wahyu memberikan pembelaan kepada temannya? Dan ia masih terus mengulang-ulang tindakannya yang sangat menjengkelkan. Sebenarnya sudah sangat ingin jemariku memberikan teguran, tapi kutahan Istigfar. Senyum kecil di bibirku telah bercampur geram namun masih terintai kesabaran. Lalu kemudian mereka bercerita tentang rencana minum ballo, air mukaku berubah. Senyum yang terpasang terlepas begitu saja, semakin tak karuan saja suasana hatiku. Dan ketika mereka tersadar,

“Ka’ Syifa marah kaya’nya!”

“Iyalah, bagaimana tidak marah kalo kalian cerita tentang ballo di depanku!”, sedikit naik volume suaraku.

Wahyu menangkupkan kedua tangannya depan dada, tanda permintaan maafnya. Aku berpaling! Bukan itu adikku, marahku bukan pada sikap ketidak mengertian kalian, tapi pada kekeliruan kalian yang menuruti bisikan syethan melalui minuman haram itu. Aku benci! Sangat!

~~~

Sore hari,

“Di kompleks kuburan aja yah de?”, ajakku.

“iya kak!”

Seperti biasa, minggu sore kami berkumpul dan berbagi bersama. Hari ini, kami kembali memilih kompleks kuburan biasanya di ruang kelas Ibnu Qolby, di ruang tamu, atau bahkan di depan Taman Makam Pahlawan.

Begitu memasuki kompleks kuburan, mataku melebarkan jaring pandangnya ke sekeliling. Namun apa yang terlihat di sudut sana? Ada Wahyu, dan teman-temannya yang bertengger di atas sebuah makam. Ada botol coklat besar, kupastikan itu botol ballo! Aku berpaling, menyembunyikan kesedihan yang menyatu dengan marah yang berkobar. Wahyu hanya tertunduk saat melihatku. Melangkah beberapa, kemabali kami menemukan segerombolan pemuda, ada Shandy, ada juga Fathir disana, entah apa yang mereka lakukan. Ah, emosiku mencekat tenggorokan. Aku hanya bisa tertunduk.

Dan,

“Assalamu ‘alaikum...!”

“Wa’alaikum salam”, jawab kami serempak.

Seorang bapak yang kira-kira berumur lima puluhan berteriak mengucapkan salam, dan setelah kami jawab. Ia seperti tak merespon, ia malah semakin berteriak mengikuti logat Ipin Upin.

“Assalamu’alaikum, Atok’ oh.. atok.. Kak Roooo..oos...!”

Aku mengira dia sedang mencandai kami,

“Ah, dia mabuk tuh kak!”, kata Inna

“Iyakah?”, heranku. Mengucapakan salam dalam keadaan mabuk?

Tapi memang benar. Menyusuri jalan utama makam karena masih mencari tempat yang bagus, kulihat ada segerombolan manusia lagi. Hanya bedanya, semuanya bapak-bapak.

“Itu juga lagi minum-minum kak!”, kata Inna kembali menjelaskan.

Astagfirullah, kemungkinan besar bahkan ada orang tua santri Ibnu Qolby disana. Budak-budak Ballo!

~~~

Setelah itu, Inna murung. Tak pernah lagi adaa tawa, bahakan mungkin sekedar senyum. Saat kuingin beranjak pulang, ia utarakan sebuah keinginan padaku,

“Kak, mungkin lebih baik pergi saja dari tempat ini. Meninggalkan kampung ini! Semuanya sudah keterlaluan, pikirku hanya malam hari saja mereka begitu, sekarang siang pun mereka sudah berani! Malu rasanya tinggal disini!”, Inna sedih sekali.

Pergi, mungkin akan jadi solusi tapi kuyakin tak bisa melegakan. Tanggung jawab besar menanti..

Syetan bukan kurang ajar tapi memang tidak punya ajar! Allahu Robby, kutahu kami harus lakukan sesuatu. Tunjukkanlah jalan apa yang harus kami tempuh untuk menghentikannya...

Kami takut Engkau timpakan musibah karena semua kelalaian, maksiat dan dosa yang menggunung ini. Hidayah semata milik-Mu, tiada hak bagi kami secuil pun untuk memilikinya, namun kami ingin jadi jalan-jalannya... jalan-jalan yang menjadi arah datangnya hidayah-Mu. Ya Robb.. kuatkan kami menghadapi, benteng kami izinkan ia untuk menebal dan kokoh agar tak mudah rapuh dan rubuh... Iman kami jadikan ia bertambah di bilangan hari-Mu agar setiap ujian mampu terlewati dengan mulus... amin...

Syifa ‘Amatullah...


*Ballo: Minuman Beralkohol Tradisional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar