Jumat, 25 Juni 2010

Cerita Pilkada-ku











DALAM PERJALANAN PULANG...
Dua hari menjelang Pilkada di daerahku, mama dan papa meminta pulang untuk ikut berpartisipasi menggunakan hak pilihku. Menunaikan tugas sebagai warga negara yang baik, dengan mengikuti aturan pemerintah, “ ‘Athi_ullaha, wa ‘athi_urrasul wa ulil amri minkum “ Taatlah kepada Allah, peda rasul-Nya dan kepada para pemimpinmu! Taat kepada ulil amri tentu saja bila mereka masih di rel-Nya, bila telah melengser walau sedikit maka tugas kitalah untuk mengingatkan. Jadi ingat kisah sahabat mulia Khalifah III ‘Umar bin al-Khatthab Radhiyallahu ‘anhu saat beliau dalam khutbahnya meminta diingatkan bila sedang khilaf. Maka sambil mangangkat pedangnya, pemuda itu berteriak
“ Akan kuluruskan engkau dengan pedang ini! ” dihadapan warga yang lain, dihadapan Khalifah, dan di tengah-tengah khutbah. Namun apa jawab sang Khalifah?
“ Ya, dengan pedang itu! “ Subhanallah...
Hari rabu tanggal 22 juni, aku bergegas meninggalkan asrama, baru saja shalat ashar. Terminal yang sangat jauh, apakah masih menyisakan untukku barang satu mobil saja untuk kutumpangi pulang? Sesampai di terminal,
“ Kemana dek? “ seorang lelaki menghampiri, sepertinya tak asing dalam pandang dan dalam ingatan.
“ Soppeng pak! Batu-batu! “ oh, iya! Dia seorang sopir Soppeng juga! Ha, aku ingat!
“ Oh, La Tali masih ada di dalam, kaya’nya belum berangkat! Langsung saja masuk, di sebelah kiri terminal, semuanya mobil Soppeng. La Tali ada di bawah pohon! Cepat! “
“ Makasih, pak! “ ujarku.
La Tali, seorang sopir yang dulu pernah aku tumpangi pulang saat bulan Ramadhan menjelang. Segera kubayar karcis masuk. Buru-buru kuayunkan langkah, takut ketinggalan mobil tapi, o’ow...
“ Hei! Hei! Lewat sana! “ sebuah suara, kuberbalik. Ah, ternyata masih sopir yang tadi. Baik banget, ternyata masih membuntutiku! Menunjukkanku arah yang tepat. Aku hanya membalas senyum ungkapan terima kasih banyak atas kebaikannya!
Di ujung sana, tepat di bawah pohon dua mobil panther masih parkir. Kuhampiri seseorang, dengan sok tahu atas memori yang lupa-lupa ingat atau ingat-ingat lupa, ini mungkin yang namanya La Tali,
“ Mauki masuk? Mobil Soppeng toh? Batu-batu? “ tanyaku memeberondongnya.
“ Iya, tapi sudah full dek! “
“ Yah...! “ aku langsung lemas.
“ Naik mobilnya Onding saja! Itu! “ ia menunjuk mobil di sampingnya.
Tak lama kulihat ia meminta sopir yang bernama Onding itu untuk mengikutkanku pulang di mobilnya. Dari jauh sorot mata dan tampangnya, aku bisa membaca ia tak bisa menampungku.
“ Sebenarnya bisa, hanya saja aku carteran! Sudah dibooking sama orang lain! “ kata Onding.
“ Oh,begitu! Begini saja akan kucoba tawarkan pada adikku, memang dia tidak sampai Batu-batu, tapi hanya menitipmu, nanti di Pekkae baru mangambilmu! “ segera ia berlari kearah seorang sopir yang tadi diakuinya sebagai adik. Ah, baik semua sopir-sopir ini.
“ Wah, sudah penuh juga!” katanya dengan kecewa, saat kembali. Oh, nasibku! “ Onding, ambil saja! Penumpangmu tidak banyak bukan? Telfon saja mereka, katakan engkau mengambil satu penumpang lagi! “ pinta La Tali.
“ Baiklah! Tapi aku pulang nanti agak maghrib dek! “ kata Onding yang membuatku lega, tapi saja terselip sepotong kecil remah kekhawatiran, sebab aku bakal diselipkan pula diantara penumpang lain. Ah, apa jadinya aku nanti? Gepeng? Melempem? Oh, no!!!
“ Daripada engga’ pulang! Ya toh? “ ujar La Tali, aku hanya tersenyum.
Sekarang masih pukul 16:30, masih cukup lama. aku menunggu hingga tiada terasa adzan maghrib telah berkumandang. Masjid Darul Musafir, kutunaikan kewajibanku menghadap Ilahi, berdoa semoga perjalananku di amankan-Nya dari segala kesulitan. Berdoa banyak-banyak, bukankah doa musafir itu mustajab?
Setelah maghrib, kuhampiri mobil yang tadi akan kutumpangi pulang, namun sang sopir tak ada di tempat. Kuedarkan pandangan, oh dia disana, sedang bercakap dengan sopir yang lain. Aku mendekat,
“ Naik mobilnya yang ini saja dek! Saya masih agak lama disini! “ kata Onding, seorang sopir ditunjukkannya padaku. Duh, kenapa mesti dioper-oper begini? Yah, nasib panumpang mobil orang! Nanti aku akan punya mobil sendiri biar ngga’ dilempar-lempar... Amin!
Tapi, hei aku menemukan siapa? Pung Gama dan his family! My neighbour! Aku duduk di belakang bersama Pung Gama’s wife dan dua bocahnya: Andi Uli’ dan Andi Riyan. Penumpang yang lain, sebuah keluarga dan dua orang pemuda, yang satu tampangnya biasa kulihat, tapi dimana yah? Gurat-gurat wajahnya berkelabat di memoriku. Yang pastinya dia sekampungku. Dan yang lainnya seorang remaja yang dari tampangnya bisa kutebak dia masih SMA atau paling tidak baru saja masuk kuliah. Harus tahu teman seperjalanan, iya kan?
Dan mobil pun melaju meninggalkan kota Makassar dengan segala kepenatannya. Aku tertidur saat mobil singah di warung makan. Ah, aku tak berminat! Tadi sebelum berangkat perutku telah terisi semangkuk bakso. Tapi apa yang terjadi? Pang Gama, tetanggaku yang baik itu memaksaku untuk masuk! Itu artinya aku akan ditraktirnya. Hehe Selain berat tapi memang aku kenyang kok! Beliau memaksa dengan mengatas namakan Ayah “ Apa nanti kata pung bapakmu? “ yeah, akupun masuk!
Di dalam warung keluarga yang satunya tadi pun duduk di satu meja.
“ Siapa itu? “ tanya mereka kepada Pung Gama.
“ Anaknya Pung Gegge! “ jawab Pung Gama.
“ Oh, kesini nak!” Ajak mereka, memintaku pindah meja dan bergabung dengan mereka. Hm.. siapa yah?
Sekembalinya kami ke mobil, ibu dari keluarga tadi menegurku,
“ Hheh, nda’ kenal kamikah? Nanti kumarahi Pung mama’mu, masa’ tidak kenal kami? “
Aku hanya bisa senyam-senyum, mau apa kalau aku memang ngga’ kenal? Setelah mobil kembali melaju, ingin kukurim risalah kepada papa, melaporkan kejadian tadi. Tapi tentu saja aku terkaget saat sebelumnya bertanya dulu ke istrinya Pung Gama,
“ Memangnya, ibu ini siapa pung? ”
“ Keluarga di jok depan ini kepala desa Panincong! “
Wuah, gubrak!! Ternyata beliau nenekku! Pantesan aja marah-marah karena tak kukenali. Maaf pung, aku memang ngga begitu banyak kenal keluarga besar. Anaknya yang perempuan sempat ditegurnya,
“ Kenalan tuh dengan ponakanmu! ”
Akhirnya sampai Soppeng juga, karena kampungku lebih dekat maka akupun turun lebih dulu. Dan, sang sopir menolak sewa mobilku, kenapa? Karena nenekku itu telah membayarkannya! Alhamdulillah, rezeki memang ngga’ kemana. 
LIKA –LIKU PILKADA
Papa sejak kedatanganku belum pernah nampak batang hidungnya, kata mama beliau nginap di kantor. Sampai nginap di kantor gara-gara pilkada? Pukul sembilan pagi, papa baru pulang. Aku dan mama masih bercengkrama, mama punya banyak cerita menarik about pilkada. Mulai dari penentangan banyak orang dengan pilihan papa, sampai permusuhan dan ketidak sukaan mereka. Mama mengaku dizholimi. Hehe.. mama lebay deh! Perbedaan pilihan ternyata telah berhasil memecah belah ukhuwah. Rapuh sekali! Seorang tetangga bahkan menjauh sembari mengucapkan kata-kata yang sangat tidak pantas menurutku. Dan itu pula yang membuat mama sakit hati. Pilihan tak selalu sama bukan? Pilkada juga ujian ternyata! Tapi tentu saja bukan kesalahan pilkada, sebab pilkada bukan benda hidup, tapi para pelakon pilkada: anggota KPU, para calon bupati dan calon wakil bupati, dan semua anggota masyarakat. Baik-buruknya, bagus-tidaknya, aman-rusuhnya pilkada tergantung bagaimana pelakon menjalankan tugasnya dengan baik.
Jumlah jilbab mama bertambah, darimana asalnya? Yah, dari calon bupati! Buku-buku dzikir mama juga makin banyak? Siapa yang ngasih? Kata mama beliau rajin ikut acara dzikir bersama beberapa calon bupati. Lucu sekali, mengapa rajin berdzikirnya saat pilkada saja? Ah, kalau begitu pilkada sering-sering aja! Hehe..  Ada juga tas, disana terpampang nama salah satu calon bupati. Semua berlomba-lomba menjelma menjadi dermawan saat pilkada menjelang! Memang sepertinya KPU tidak hanya harus mengadakan pilkada sekali lima tahun! Kalau perlu tiap tahun pak! 
“ Ini rezeki! “ kata mama.
Pukul 10:00, aku, papa dan mama berjalan beriringan ke TPS. Mestinya adikku yang lelaki ikut bersama kami, hanya saja dia ada praktek, maklum calon perawat! Adik perempuanku tentu saja belum ikut, usianya belum mencapai usia wajib pilih. Sudah sangat ramai suasana di TPS. Saking semangatnya, papa sampai jadi salah masuk di pintu keluar TPS, ah papa malu-maluin aja! Mama menyerahkan kartu pemilih, berururut nama papa disebut, nama mama dan namaku. Kamipun masuk ke bilik. Bismillah... semoga yang terpilih dapat amanah menjalankan tugasnya.
Setelah itu kami bergabung dengan para ibu pahlawan dapur! Di samping TPS banyak ibu-ibu yang berbagi tugas memasak untuk para pemilih dan petugas TPS. Dan suasana pilkada tak mampu manghangatkan suasana, perbedaan dukungan calon bupati membuat hati para ibu-ibu ini renggang walau tentu saja masih terbingkai senyum. Canda tawa saling menyinggung membuatku memilih untuk menyepi. Adzan zhuhur, mama kuajak pulang.
Dua jam kemudian mama mengajak kembali ke TPS, ingin menyaksikan penghitungan suara. Ah, mama semangat sekali kelihatannya. Sesampai di TPS, ternyata penghitungan suara telah dimulai dari tadi, melihat papan suara, mama jadi lemas setelah garis-garis jumlah pasangan calon bupati lain lebih banyak dari pasangan dukungannya. Tapi masih tetap saja dalam diamnya... penghitungan berlangsung aman, tidak ada teriakan sumbang atau apapun. Setelah selesai, hasilnya tetap saja pasangan calon yang mama dukung kalah suara. Mama berbisik,
“ Ah, kan masih di TPS ini? Di TPS lain nomor **** pasti menang! “ (‘afwan nomor disamarkan untuk keamanan! )
Maka ramailah orang-orang lalu lalang, berkunjung dari satu TPS ke TPS yang lain, layaknya pegawai LSI (Lembaga Survei Indonesia) mencatat-catat, menghitung-hitung.. berkumpul sesama pendukung dan mencocok-cocokkan. Lebih sibuk dari anggota TPS.. hehe 
Mama masih terus bergurau dengan ibu-ibu yang lain,
“ ngga’ usah khawatir! Tenang! “
Di penghujung senja, kuterima sms dari seorang teman yang kerja di lembaga survei hasil pilkada siang tadi,
“Asmo : 39,57% : 50.459 suara
Akar : 31,25% : 39.856 suara
ATM : 0,47% : 604 suara
SAUDARATA : 7,26% : 9.718 suara
HIBAH : 1,86% : 2.372 suara
AS SALAM : 5, 07% : 6.459 suara
SULAPA : 14,11% : 18.022 ”
Sms yang kemudian jadi rujukan papa. Ah, pilkada sebentar saja telah menjadi bagian sejarah perjalanan kehidupanku. Pilkada telah sukses berlangsung sebagaimana suksesnya syetan yang berhasil mengurai ikatan ukhuwah antar masyarakat. Pilkada telah berlalu, mari kembali merapatkan rangkulan, menghapus ketegangan yang pernah ada, sunggingkan senyum untuk keberhasilan kita semua telah memilih bupati untuk daerah kita tercinta..
Untuk bupati dan wakil bupati terpilih, jangan lupakan janji! Al-Wa’du daynun, janji adalah hutang! Amanah telah kammi letakkan di pundakmu, jangan dikhianati apalagi diabaikan... kami di belakang mengikut perintahmu demi wujudkan kehidupan sejahtera! Berjuanglah, kami mendukung dan mendoakanmu!
KEMBALI KE MAKASSAR!
Ba’da maghrib, aku harus kembali lagi. Kuliah menantiku esok. Pamitan dengan mama, papa, nenek dan tetangga-tetangga memohon doa dari mereka, apalagi ujian telah mendekat.
“Usalaisi paimeng tana ancajingekku,
utiwi bokong sumange pole ri duae pajajiakku...
tennapodo ulesu matti tiwi paddisengeng nenniya adecengeng... Amin..
indokku... ambokku... acenning atitta tuli uporennuang!
Aja’ to pettu rennu marellau ri Puanngnge natipu magatti minasae.. ”
Dengan lambaian tangan aku berlalu..
Di kota Watan Soppeng aroma Pilkada masih tercium tajam. Mobil yang aku tumpangi bahkan tak bisa melewati depan rumah salah satu calon bupati, padahal beliau tidak terpilih, maka mobil yang kutumpangi terpaksa mengambil jalan lain. Anehnya, didepan rumah pasangan terpilih mobil kami masih bisa lewat dengan bebas, meski memang sangat ramai oleh para pendukungnya yang memberi selamat atas kemenangannya...
Selamat untuk bapak yang terpilih, dan untuk yang belum terpilih yang sabar yah pak!  Hehe..


belum sempat kuposting setelah kemudian kudengar kabar kericuhan di Soppeng, kantor KPU dan kantor kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng dibakar! Inna Lillahi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar