Kamis, 04 Juni 2009

Tentang diriku dan Yasribku...


Aku ingin bercerita bahwa aku pernah menjadi “Seorang” di tanah Yasrib. Aku prnah mengukir sejarah disana, mungkin di mata orang lain itu tak terlalu indah, dan tak perlu dibanggakan. Tapi peduli apa dengan apa yang orang lain bilang?. Toh, aku yang pernah merasakannya… aku bersama banyak kawan pernah bersama memahat “keberadaan” di bumi Yasrib. Banyak kisah, beribu cerita, dan brjuta hikmah. Kenangan itu tersimpan dalam memori abadi. Bermula saat aku menginjakkan langka pertama kali, aku telah bertekad memulai perjuangan disana. Dan…aku manemukan warna-warni berbeda yang kemidian menambah semarak lukisan perjuanganku…mereka membawa semangat tinggi namun berbeda..

  1. Nur Inayah Asnawi
  2. Sahida S. Poji
  3. Rafiqah Syahruddin
  4. J.M Rezky Sahni purnama
  5. Irma Puspitasari
  6. A. Putri Purnama Dewi Sari
  7. Nurhikmah
  8. Fitri
  9. Andi Nur Amaliah Ahmad
  10. Muthmainnah
  11. Sagena
  12. Irma Erviana
  13. Eni Irmayani
  14. Hasriani
  15. Mauliyani Farizah
  16. Lia Candra Sari
  17. Harjunaini
  18. Irma sari
  19. Nur Rahmah

Kami melangkah terus… satu per satu ada yang memutuskan untukmenghentikan perjuangan. Tapi masih melangkah dan melangkah lagi. Bersama di jalan keyakinan…

Waktu, hidup, dan perjuangan terus menggelinding, berputar. Meski aku tak bisa mendapat banyak karena aku terlalu membuang-buang waktu. Menikmati masa remaja yang begitu melenakan. Kami tak pernah tahu akan jadi apa dan siapa kami 15 tahun mendatang. Kisah terus bergulir dan banyak diantaranya aku yang jadi pelaku utama.. lakon drama yang aku mainkan banyak memainkan peran antagonis, tegar, dan penuh ambisi. Ambisi-ambisi itu akhirnya banyak menuntutku.. gelisahpun bergerombol, menusuk nadi. Aku tersiksa akan semua itu. Aku

Di bumi Yasrib aku belajar menapaki kehidupan yang tak gampang. Masalah demi masalah memompa batin dan hal itu tak pernah menyadarkanku bahwa semuanya adalah ujian yang mengantarkanku menuju kedewasaan. Disana aku terus berusaha menyisakan karya agar kelak manjadi bukti bahwa aku pernah belari mengejar peluh di Yasrib…

Saat ini pucuk-pucuk rindu itu terus tumbuh. Tak sabar rasanya aku ingain kembali ke Yasrib meneruskan perjuangan dan melahirkan karya-karya besar. Semoga tidak hanya sekedar mimpi. Untuk itu aku harus menyiapakan bekal. Aku harus membuktikan bahwa peluh yang pernah menemani perjuangan tak hanya terserap bumi tapi, terus memancar hingga terbang ke langit untuk kembali ke bumi…

7 Juni ‘08

23:09

Ancol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar