Minggu, 23 Mei 2010

Pura-pura

Tidak semua pura-pura menyenangkan
Ada yang menyiksa diri dengan merasa sungkan
Padahal sebenarnya melegakan
Ah, mengajarkan kemunafikan pada diri sendiri
Hingga nanti tak mampu mandiri
Lalu kapan menjadi dewasa
Bila belajar tidak dijadikan biasa?
Dari tanggung jawab terus menerus mengelak
Akan jadi apa kelak?

Berpura-pura...
Sejatinya mengundang lara
Dengan topeng sebagai kendali
Menutupi wajah asli
Padahal cepat atau lambat akan tetap dikenali

Begitu banyak yang berpura-pura
Layaknya memainkan lakon dalam sandiwara
Menipu orang lewat lisan, lewat tulisan
Mengajari orang pesan-pesan
Membuat mereka jadi terkesan

Begitu banyak alasan
Padahal akhirnya kenangan buruk tertulis di nisan

Pura-pura gambaran hati yang keruh
Gembira dalam riuh
Bahagia saat kisruh
Berkulit sahabat, berhati musuh
Memandang rumah-rumah kumuh
Milik Si Miskin dan Si Buruh
Dengan hati penuh angkuh
Uh, tunggu saja sampai ia jenuh
Sampai berpeluh-peluh
Sampai lelah mengayuh
Sampai tak mampu berjalan, lumpuh

Begitu banyak yang berpura-pura bagus
Dilantik dengan pidato yang mulus
Dengan kata-kata halus
Berkoar-koar takkan berkasus
Pada kesejahteraan akan berfokus
Korupsi harus segera digerus
Hingga saat sang waktu berjalan terus
Ia berubah menjadi tikus
Janji-janji dibiarkan hangus
Cerita indah rayuan gombal, semuanya diabaikan pupus
Lalu ditutupi dengan begitu banyak rumus
Dengan dalih berbagai jurus
Hingga ujungnya semua memintanya mampus

Tak butuh lagi kami engkau sok puitis
Yang hanya mampu ciptakan tangis
Dibalik tembok menatap sinis
Tak usah berpura-pura manis
Badai telah menghantam, tak usah kau tambahkan gerimis
Atau memang bahagia jika saksikan kami meringis?
Dasar manusia berhati Iblis
Tunggu nanti, kubunuh kau dengan keris
Berakhir sudah kisah yang cukup miris!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar